Rabu, 08 Februari 2012

Proses Laktasi



Fisiologi Laktasi
Proses laktasi (menyusui) timbul setelah ari-ari atau plasenta lepas. Plasenta mengandung hormon yang menghambat pembentukan ASI. Setelah plasenta lepas, hormon tersebut tidak ad lagi sehingga ASI pun keluar.
Mulai bulan ke-3 masa kehamilan, tubuh wanita memproduksi hormon yang menstimulasi munculnya ASI dalam sistem payudara. Dan akan berfungsi ketika bayi lahir.
Proses bekerjanya hormon adalah sebagai berikut :
  1. Saat bayi menghisap, sejumlah sel syaraf di payudara ibu mengirimkan pesan ke hipotalamus
  2. Ketika menerima pesan itu, hipotalamus melepas “rem” penahan prolaktin
  3. Untuk memulai menghasilkan ASI, prolaktin yang dihasilkan kelenjar pituitari merangsang kelenjar-kelenjar susu di payudara ibu.
Hormon-hormon yang terlibat dalam proses pembentukan ASI adalah sebagai berikut :
  1. Progesteron
Mempengaruhi pertumbuhan dan ukuran alveoli. Kadar progesteron dan estrogen menurun sesaat setelah melahirkan . hal ini menstimulasi produksi ASI secara besar-besaran
  1. Estrogen
Menstimulasi sistem saluran ASI untuk membesar. Kadar estrogen dalam tubuh menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan selama tetap menyusui
  1. Prolaktin
Berperan dalam membesarnya alveoli pada masa kehamilan
  1. Oksitosin
Mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan dan setelahnya, dan mengencangkan otot halus disekitar alveoli untuk memeras ASI menuju saluran susu. Oksitosin berperan dalam proses turunnya susu (let down/ejection reflex)
  1. Human placental lactogen
Sejak bulan kedua kehamilan, plasenta mengeluarkan banyak HPL yang berperan dalam pertumbuhan payudara, putting, dan areola sebelum melahirkan. Pada bulan kelima dan keenam kehamilan, payudara siap memproduksi ASI. Namun ASI bisa juga diproduksi tanpa kehamilan (induced lactation)
Proses pembentukan Laktogen
  1. Laktogenesis I
Pada fase akhir kehamilan, payudara wanita memasuki fase laktogenesis I. saat itu payudara memproduksi kolostrum, yaitu berupa cairan kental yang kekuningan. Pada saat itu, tingkat progesteron yang tinggi mencegah produksi ASI yang sebenarnya. Namun hal ini bukan merupakan masalah medis. Apabila ibu mengeluarkan kolostrum sebelum bayi lahir, hal ini bukan merupakan indikasi sedikit atau banyaknya produksi ASI sebenarnya nanti
  1. Laktogenesis II
Saat melahirkan keluarnya plasenta menyebabkan turunnya tingkat hormon progesteron, estrogen, dan HPL, secara tiba-tiba. Namun hormon prolaktin tetap tinggi. Hal ini menyebabkan produksi ASI besar-besaran. Apabila payudara dirangsang, jumlah prolaktin dalam darah akan meningkat dan mencapai puncaknya pada periode 45 menit, kemudian kembali ke level sebelumnya rangsangan 3 jam kemudian. Keluarnya kadar hormon prolaktin menstimulasi sel di dalam alveoli untuk memproduksi ASI dan hormon ini juga keluar dalam ASI sendiri. Penelitian mengindikasikan apabila produksi ASI lebih banyak, yaitu sekitar pkl 02.00 dini hari hingga pkl 06.00 pagi. Sedangkan jumlah prolaktin rendah saat payudara terasa penuh.
  1. Laktogenesis III
Sistem kontrol hormon endokrin mengatur produksi ASI selama kehamilan dan beberapa hari pertama setelah melahirkan. Ketika produksi ASI mulai stabil, sistem kontrol otokrin dimulai. Pada tahap ini, apabila ASI banyak dikeluarkan, payudara akan memproduksi ASI dengan banyak pula. Dengan demikian, produksi ASI sangat dipengaruhi oleh seberapa sering dan seberapa baik bayi menghisap, juga seberapa sering payudara dikosongkaN

Pengeluaran Air Susu

Apabila bayi disusui, maka gerakan menghisap yang berirama akan menghasilkan rangsangan saraf yang terdapat di dalam glandula pituitari posterior. Akibat langsung refleks ini adalah dikeluarkannya oksitosin dari pituitari posterior. Hal ini menyebabkan sel-sel mioepitel di sekitar alveoli akan berkontraksi dan mendorong ASI masuk ke dalam pembuluh ampulae. Refleks ini dapat dihambat oleh adanya rasa sakit, misalnya jahitan perineum. Dengan demikian penting untuk menempatkan ibu dalam posisi yang nyaman, santai dan bebas rasa sakit, terutama pada jam-jam menyusukan anak.

Pengeluaran prolaktin dihambat oleh faktor-faktor yang belumjelas bahannya, namun beberapa bahan terdapat kandungan seperti dopamin, serotonin, katekolamin, dan TSH yang ada kaitannya dengan pengeluaran prolaktin.

Pengeluaran oksitosin dipengaruhi oleh hisapan bayi dan juga oleh suatu reseptor khusus yang terletak dalam sistem duktus. Bila duktus melebar atau menjadi lunak, maka secara reflektoris dikeluarkan oksitosin oleh hipofisis yang berperan untuk memeras ASI dari alveoli. Jadi peranan prolaktin dan oksitosin mutlak diperlukan di samping faktor-faktor lain selama menyusui.

Pemeliharaan ASI
Penyediaan berlangsung terus sesuai kebutuhan. Apabila bayi tidak disusui maka penyediaan ASI tidak akan dimulai. Apabila seorang ibu dengan bayi kembar menyusukan kedua bayinya bersama, maka penyediaan air susu akan tetap cukup untuk kedua bayi tersebut. Makin sering bayi disusukan, penyediaan air susu ibu juga makin baik.

Dua faktor penting untuk pemeliharaan ASI adalah rangsangan dan pengosongan payudara

Rangsangan
Sebagai respon terhadap penghisapan, prolaktin dikeluarkan dari glandula pituitari anterior dan dengan demikian memacu pembentukan ASI yang lebih banyak. Apabila karena suatu alasan tertentu bayi tidak dapat menyusu sejak awal, maka ibu dapat memeras air susu dari payudaranya dengan tangan atau menggunakan breast pump. Akan tetapi penghisapan oleh bayi akan memberikan rangsangan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kedua cara tersebut.

Pengosongan sempurna payudara
Bayi sebaiknya mengosongkan payudara sebelum diberikan payudara yang lain. Apabila ASI yang diproduksi tidak dikeluarkan, maka laktasi akan tertekan (mengalami hambatan) karena terjadi pembengkakakn alveoli dan sel-sel mioepitel tidak dapat berkontraksi kemudian ASI tidak dapat di paksa masuk ke dalam duktus laktiferus. Rutinitas dan pola minum ASI akan terbentuk dan minumnya akan lebih jarang apabila laktasi tidak berfungsi penuh.
Penyebab produksi ASI rendah adalah :
  1. Kurang seringnya ibu menyusui bayi
  2. Bayi tidak bisa menyusui karena struktur rahang dan mulutnya kurang baik, teknik perlekatan yang salah, dll
  3. Kuranya gizi ibu
Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI antara lain :
  1. Frekuensi pemberian ASI
  2. Berat bayi saat lahir
  3. Usia kehamilan saat melahirkan
  4. Usia ibu dan paritas
  5. Stress dan penyakit akut
  6. Mengkonsumsi rokok
  7. Mengkonsumsi alkohol
  8. Memakai kontarsepsi yang menghambat ASI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar